Ada pepatah yang mengatakan, “Hidup adalah perlombaan marathon bukan sprint.” Hidup itu bukan seberapa cepat kita hidup, tetapi seberapa lama kita bisa menjalani hidup.
Sayangnya, pepatah itu tidak ada dalam buku ini. Yang ada hanya sebuah mantra berbunyi, “Pain is inevitable. suffering is optional.” Kita tidak bisa menghindari rasa sakit dalam hidup. Yang bisa kita lakukan adalah merespon rasa sakit itu sebagai penderitaan atau menerimanya lapang dada.
What I Talk About When I Talk About Running adalah memoar perjalanan Haruki Murakami menekuni olahraga maraton di saat namanya menjadi novelis terkenal.
Buku ini diterjemahkan oleh Ellnovianty Nine Syarief dan A. Fitriyanti dengan sangat baik. Diterbitkan pertama kali tahun 2016 dalam bahasa Indonesia. Dan masuk kategori buku Self Development atau pengembangan diri.
Murakami memberi judul What I Talk About When I Talk About Running terinspirasi dari judul kumpulan cerpen karya penulis favoritnya, Raymond Carver, “What We Talk About When We Talk About Love.”
Judul yang panjang dan aneh. Walaupun tema besarnya tentang lari tetapi tidak ada satu pun penjelasan bagaimana cara berlari. Buku Haruki Murakami ini lebih banyak menceritakan persiapan dan pengalamannya mengikuti lomba maraton.
Apa Isi Buku What I Talk About When I Talk About Running
What I Talk About When I Talk About Running adalah buku yang berisi catatan harian Haruki Murakami ketika berolahraga lari. Bisa dikatakan, sebuah diary seorang penulis yang hobi olahraga lari.
Ada empat peristiwa yang diceritakan Murakami. Pertama, ketika ia pertama kali lari Full Marathon (42 km) dari Athena ke Marathon. Kedua, menaklukan lomba Ultra Marathon dengan jarak lari 100 km. Ketiga, mengikuti lomba Triathlon. Terakhir, cerita persiapan lomba Marathon New York keempat-nya di usia 50 tahun, dan saat itu juga ia sedang menulis buku ini.
Peristiwa-peristiwa itu sebenarnya membentuk alur cerita yang utuh. Di awal, Murakami sering mencantumkan hasil larinya dalam bentuk statistik. Entah jarak lari mingguan atau jumlah jarak yang ditempuh selama satu bulan. Di akhir perjalanannya, Murakami menunjukan bahwa angka-angka kilometer dan waktu itu tidak begitu berarti ketika tubuhnya sudah mulai menua.
“Saat makin tua, kamu akan belajar untuk bahagia dengan apa yang kamu miliki. Itulah salah satu dari sedikit hal baik dengan menjadi tua.” hlm, 87
Saya sendiri tertarik dengan hubungan antara menulis dan berlari yang dijelaskan Murakami. Dalam wawancara, ia menyebutkan bahwa hal terpenting untuk menjadi penulis adalah memiliki bakat, fokus, dan daya tahan. Tidak semua orang memiliki bakat menulis, tetapi fokus dan daya tahan bisa didapatkan dengan terus berlatih seperti berlari.
“Untungnya, dua hal penting ini - berbeda dari bakat karena keduanya bisa diperoleh dan dipoles melalui latihan … Hal ini mirip sekali dengan latihan otot yang kutulis beberapa waktu lalu.” hlm, 79.
“Otot manusia seperti binatang pekerja yang cepat belajar. Jika kamu meningkatkan jumlah lari selangkah demi selangkah, otot-otot itu akan belajar menerimanya.” hlm, 72.
Rangkuman Setelah Membaca What I Talk About When I Talk About Running
Buku Haruki Murakami tentang lari ini sangat rekomen untuk semua orang. Bahasanya yang ringan, mudah dipahami dan reflektif bukan hanya untuk pelari tapi untuk semua kalangan.
Saya sebenarnya cukup bingung untuk membahas buku ini. Karena memang terlalu banyak yang ingin dibahas. Terlebih lagi cara Murakami menulis kisah pribadinya dengan sederhana tapi tetap bernas.
Ia tidak berusaha menulis sesuatu agar terdengar filosofis. Ia justru menulis sesuatu yang terjadi secara nyata dalam kehidupan. Sehingga tidak hanya fokus ke topik lari, tetapi juga tentang filosofi kehidupan.
Soal olahraga lari, saya pernah rajin lari selama satu tahun lebih. Antara 2022 sampai bulan Juni, 2023. Saya lari sehabis subuh ketika semua anak muda seusiaku baru akan tidur. Sepatu lari pertama saya merek brand lokal, Nineteen. Kira-kira harganya 400 ribuan.
Saya berhenti karena ada sakit di bagian lutut. Dan baru menyadari bahwa berlari terus-menerus ternyata tidak baik untuk berat badan yang hanya 46 kg. Sejak 2023 itu saya mulai latihan angkat beban. Dan di tahun 2025, rata rata berat badan saya 58 kg. Namun belakangan ini, resiko kesehatan sudah tidak dilihat dari berat badan ideal tetapi dari lingkar perut.
Saya cukup relevan dengan apa yang ditulis Haruki Murakami. Tentang menjalani hidup, berlari, apalagi menulis. Saya setuju dengan Haruki Murakami bahwa menulis itu sebenarnya sangat sulit karena membutuhkan mental dan fisik yang kuat.
“Orang-orang itu mengira jika memiliki kekuatan untuk mengangkat secangkir kopi, kamu sudah bisa menulis novel. Namun, begitu mencoba menggerakkan tanganmu, kamu akan segera sadar bahwa menulis bukanlah pekerjaan sedamai itu.” hlm, 80.
Saya juga menulis, Journaling Seperti Haruki Murakami di Substack. Agar aktivitas journaling tidak berat dan mudah dilakukan.
Terima kasih sudah membaca…
