![]() |
| Sumber: Gramedia Pustaka Utama |
Mengawali tahun baru, aku memutuskan untuk membaca novel Rara Mendut Karya Y.B Mangunwijaya. Novel ini mengangkat cerita rakyat dengan genre sejarah di Era Kejayaan Sultan Agung.
Dimana sebagian Jawa dikuasai oleh Kesultanan Mataram, tepatnya di abad ke-17. Pada zaman ini, Mataram melakukan ekspansi besar-besaran di pesisir utara Jawa (Pati).
Novel ini mengisahkan Rara Mendut, perempuan “Rampasan Perang” dari Pati. Setelah Pati kalah, Ia diincar Tumenggung Wiraguna, panglima utama Sultan Agung untuk dijadikan selir (istri siri).
Namun Mendut menolak tegas tawaran itu. Sebagai perawan pantai utara yang berwatak teguh berani, Ia memilih untuk berjuang mempertahankan kedaulatan diri dan cintanya yang murni.
Novel Rara Mendut membuatku merenung lebih dalam. Banyak pesan moral yang bisa kita ambil. Bahkan masih relate untuk dijadikan refleksi di zaman sekarang.
Pada intinya, novel ini punya gagasan utama tentang emansipasi perempuan. Bagaimana seorang Mendut sebagai perempuan menyikapi lingkungan yang feodal dan patriarki.
Memang sulit menjadi perempuan pada zaman itu. Hidup sebagai perempuan hanya sebatas objek kaum laki-laki. Derajat perempuan selalu di bawah laki-laki.
Nah, pertanyaannya adalah apakah menjadi perempuan di era sekarang, sama sulitnya dengan era Jawadwipa kala itu?
Letak Keperawanan Bukan Di Sengkangan
Adegan yang paling aku ingat itu adalah adegan yang membahas pengertian “perawan” pada perempuan. Dalam novel ini, perempuan yang masih gadis sering dipanggil perawan.
Ketika itu, Genduk Duku (sahabat Mendut) sering diolok-olok para pemuda. Katanya, kalau sering naik kuda, perawannya jadi hilang.
Karena sahabatnya overthinking. Mendut pun memberi pesan moral. Bahwa yang disebut perawan itu bukan hanya bentuk selangkangan, dalam arti biologi, selaput dara (hymen).
“Perawan atau gak nya perempuan itu terletak pada keteguhan hatinya. Pada tekad batinnya, pada galih atau pemikirannya.”
Aku menangkap kalau kata perawan di sini, bukan sekadar kata. Ini sebuah petunjuk atau pesan tersirat dari penulis. Sehingga bisa kita bedah makna dan hakekatnya.
Orang-orang sering kali nge-judge keperawanan perempuan. Menganggap perempuan (gadis) yang sudah bukan perawan itu menurunkan nilai pribadinya.
Sedangkan (perawan) pada laki-laki tidak terlalu dipermasalahkan. Ini dua standar yang masih mengakar sampai sekarang.
Dalam adegan ini, saya mengambil pelajaran bahwa, “Perawan itu gak melulu soal darah, tapi juga dari tumpah darah.”
Walaupun ada perempuan yang sudah tidak perawan secara biologis, jika karena dijajah (diperkosa, dipaksa, dimanipulasi, ditipu, dimanfaatkan) ia tetap perawan.
Ini bukan alasan karena tidak sadar sama diri sendiri. Semua orang mau laki-laki atau perempuan tetap waspada dan hati-hati.
Pesan ini juga buat para perempuan yang terjajah secara biologi, kalian tetap perawan dalam makna sejati, dan kalian harus tetap berjuang.
Aku membayangkan menjadi seorang perempuan yang tak lagi peranawan. Betapa depresi dan sulitnya mengakui kehidupan.
Banyak tekanan. Apa yang dikatakan orang-orang nanti? Apa masih ada yang menerimaku? Bagaimana jika ini jadi masalah saat menikah? Apa ini akhir dari kehidupanku?
Laki-laki gak bisa takut merasakannya perempuan mikirin keperawanan. Bahkan sesama perempuan pun kadang saling menjatuhkan.
Belajar Emansipasi Dari Perawan Pati
Aku baru menyadari, sampul novel ini ada gambar perempuan merokok. Baik versi lama maupun baru (kecuali cover 2019) tetap ada ilustrasi perempuan merokok.
Ini mengingatkanku dengan perjuangan Mendut berjualan rokok. Ia menjual puntung rokok bekas hisapannya untuk menebus denda dan pajak dari Tumenggung Wiraguna.
Rara Mendut mengartikan ini sebagai emansipasi melawan patriarki dan otoritas Wiraguna. Tidak hanya penolakan dari lingkungan istana dan budaya, tetapi juga meminta hak perempuan untuk mandiri secara finansial.
Padahal kegiatan merokok yang dilakukan Mendut merupakan pelanggaran besar bagi adat-budaya, istana maupun Tumenggung Wiraguna.
Kalau aku lihat sekarang. Beberapa perempuan juga merokok, bahkan blak-blakan. Saya tidak melarang mereka. Tapi saya masih bertanya-tanya, apakah itu bentuk perlawanan atau ada motivasi lain.
Jujur aku tidak setuju kalau perempuan yang merokok itu disebut perlawanan. Menurutku merokok adalah hal yang tidak bermanfaat. Fokus rokok di sini adalah bentuk perlawanan pada sesuatu yang tidak adil bagi perempuan.
Ada banyak hal yang penting untuk diperjuangkan dalam emansipasi perempuan selain itu. Seperti melawan praktik feodal dan patriarki yang secara halus terjadi pada perempuan.
Tidak bisa dipungkiri. Meskipun pengetahuan dan teknologi mencapai puncaknya, namun masih ada ketidakadilan bagi perempuan. Tampaknya masih ada anggapan-anggapan yang mengikat mereka.
Anggapan bahwa perempuan itu lebih emosional atau kurang rasional dibandingkan laki-laki. Anggapan bahwa godaan duniawi bagi laki-laki itu harta, tahta, “Wanita.”
Atau anggapan bahwa perempuan itu “Tanggung jawab utamanya di rumah” ngurusin rumah tangga. Bahkan hak untuk memilih pasangan, masih diatur oleh orang tua.
Menjadi Wanita Yang Sejati
Sebelum masuk babak ke-3, aku berhenti melanjutkan cerita. Ada tembang macapat (puisi jawa) yang membuatku berpikir dan membaca berulang kali…
“Wanita yang sejati
tak mungkin dicari
apalagi dibeli…
Wanita yang sejati
Hanya dapat ditemu
Dalam cahaya Wahyu.”
Selama mengikuti cerita, aku baru paham kalau sebenarnya, Mendut itu ingin menjadi “Wanita Yang Sejati.” Itulah inti tujuan Mendut.
Novel ini seakan-akan memberi arah untuk menjadi manusia yang sejati. Yang merdeka sebagai manusia seutuhnya. Yang bebas lepas dari apapun.
Ada kutipan Rara Mendut yang menjawab semua premis di awal. “Tubuh boleh dirampas memang, tapi hati tidak.”
Rara Mendut membuktikan bahwa ia adalah wanita yang sejati. Wanita yang secara fisik jadi “Barang Rampasan,” tapi jiwa masih kokoh pada pendiriannya.
Wanita yang bisa menghancurkan ego maskulinitas Wiraguna. Walau dijanjiin kekuasaan, martabat dan kekayaan.
Kutipan itu seolah-olah memberi pesan kalau semua manusia bisa memiliki barang. Bahkan bisa didapatkan secara gratis. Tapi gak semua bagian barangnya bisa diambil.
Seperti tamanan. Kadang ada tanaman yang hanya bisa diambil buah atau daunnya saja. Kadang ada tanaman yang secara lahir tidak bisa diambil, tapi bisa melindungi dari bahaya.
Manusia yang bisa mengambil manfaat dari tanaman adalah dia yang dapat melihat dalam “Cahaya Wahyu.”
Konsep “Wanita Sejati” ini bukan untuk nge-judge perempuan yang terpaksa berkompromi dalam hidupnya. Ini lebih tentang cita-cita yang kita perjuangkan dalam konteks kita masing-masing, sesuai privilege dan situasi kita.
Setelah Menutup Buku Ini
Setelah menutup buku ini, aku akan merekomendasikan novel Rara Mendut ke kamu yang:
✅ Tertarik pada feminisme dan sejarah Jawa
✅ Suka belajar mencari filosofi hidup dari novel
❌ Kurang minat dengan tempo lambat dan bahasa puitis
Aku beri rating Novel Rara Mendut karya Y.B Mangunwijaya, bintang 4.1 / 5 ⭐️ Beberapa alasan kenapa aku suka novel ini dirangkum dalam 5 poin.
🥰 Cerita (3.5)
😍 Setting (4)
🤩 Penokohan (5)
😇 Penulisan (3)
🤩 Pesan Moral / fakta menarik (5)
Alur cerita yang cukup dramatis berlebihan menurutku. Kadang terlalu lama menggambarkan adegan sesuatu. Seperti, adegan perjalanan menuju Kerajaan Mataram yang diceritakan dengan nafas panjang.
Penulisan bahasanya sering pake bahasa Jawa. Seperti celutukan, “Umak-umik.” Atau tembang Jawa, “Jatining dumadi kang nuwuhake wiji.” Atau menyebut perempuan yang cantik atau manis itu “Nggemesake.”
Tapi justru itu yang unik menurutku. Latar belakang dan gaya bahasa itu membuat novel Rara Mendut jadi lebih autentik.
Karakter perempuan sangat mendominasi alur cerita. Aku bahkan percaya kalau sebenarnya tokoh utamanya adalah Rara Mendut dan Nyai Ageng (istri utama/sah Wiraguna).
Dengan tokoh-tokoh perempuan itu banyak pesan moralnya yang masih relate sama zaman sekarang. Tidak hanya soal emansipasi tapi juga pesan filosofis untuk kehidupan.
Makasih udah baca...








