Selama Ini Aku Salah Pake AI, Ini Yang Benar - ahmad hanif

Selama Ini Aku Salah Pake AI, Ini Yang Benar

Selama Ini Aku Salah Pake AI, Ini Yang Benar

Foto oleh Igor Omilaev di Unsplash


Pernah ngerasa, “kok respon AI gak sesuai sama maksudku ya” atau “gimana sih bikin prompt? Jadi bingung nyusun kata-katanya.”


Dulu aku juga kayak gitu. Bingung mau bikin prompt kayak gimana. Sering ngerasa respon AI terlalu general, gak pas atau ngasal.


Ternyata, aku yang gak bisa pake AI. Cuma dipake buat hal-hal basic. Kayak nyari ide, bikin saran buat bales chat, sampe nyuruh AI bikin promptnya sendiri.


Padahal respon AI tergantung dari siapa dan apa yang masuk. Good input, good output. Hasil AI akan bagus, jika kita paham cara menggunakan AI.


Belakangan ini, aku lagi ngulik tentang AI. Dan salah-satu yang menarik adalah kebiasaan kita pake AI yang ternyata salah. 


Apa aja kesalahan kita? Dan gimana sih pake AI biar maksimal?


Prompt terlalu umum


Pertama, perintah atau prompt yang pendek dan terlalu umum membuat AI juga bingung. Kayak kita nyuruh temen, “Eh ambilin itu dong.” Kata itu, Gak jelas dan gak spesifik.


AI itu bukan manusia. Gak paham kalau gak dikasih tau. Kalau mau nyuruh AI, kasih tau maksudmu apa, tujuanmu apa, pengenmu kayak gimana…


Jangan nge-prompt tanpa maksud yang jelas. Nanti, AI akan menerima jawaban yang tidak jelas juga. Tidak sesuai maksud kita.


Aku kasih contoh:


Klik buat liat detail.



*Gak semua situasi butuh prompt yang detail. Kalau cuma tanya hal sederhana, gak masalah prompt pendek.


Menambah Konteks


Dari contoh di atas udah paham kan? Dimana respon AI menggunakan prompt yang detail bakal lebih berkualitas. 


Semakin lengkap konteks kita, semakin bagus juga hasil dari AI. Tugas kita adalah membangun konteks tersebut sedetail-detailnya.


Konteks itu bagian yang bisa mendukung atau yang bisa jelasin prompt kita. 


Tapi konteks gak melulu jadiin AI ngerespon sesuai keinginan atau maksud kita. AI perlu tau dan mengenal kita. Siapa kita? Apa minat, kesukaan, kecenderungan atau nilai kita?


Menambah Referensi


AI butuh referensi kita biar paham gimana ngejawab perintah kita. Ibarat kita merespons sesuatu yang viral, pasti beda-beda. 


Karena setiap orang punya gaya, kecenderungan atau sudut pandang untuk menyikapi atau ngerespon sesuatu.


Nah, AI butuh yang namanya referensi biar responnya sama kayak maksud atau keinginan kita.


Contoh referensi ku seperti ini,



*Konteks sama referensi gak ada hubungan khusus. Referensi itu kompas untuk ngerespon konteks yang luas, biar pembahasannya kamu banget.


Over-prompting 


Kebanyakan tutorial Youtube atau TikTok ngasih prompt yang terlalu banyak. Terlalu bertele-tele dan gak efisien.


Kita juga gitu, seringkali ngasih konteks prompt yang berlebihan. Padahal konteks detail itu bukan seberapa panjang informasi tapi seberapa tepat informasi. Biar bisa bimbing AI.


Contoh prompt AI yang berlebihan seperti ini,


Screenshot Youtube: Mantra Skripsi


Prompt yang terlalu banyak bikin hasil AI keluar dari lingkup/wilayah konteks. Kayak kita kalau lagi ngobrol sama temen. Awalnya ngobrolin topik A, lama-lama, “Kok jadi bahas ini?”


Terus gimana dong solusinya? Biar prompt kita detail, tapi gak berlebihan?


Bikin Prompt Pendek Tanpa Konteks Panjang


Caranya dengan “Membangun Konteks.” Bukan memperbanyak detail konteks dalam satu prompt.


Setelah nyoba-nyoba, ada dua cara buat membangun konteks. Pertama, pake cara “Role” atau ngobrol terus-menerus biar AI paham konteks kita. Kayak chatting sama orang.


Tapi ingat, tujuan atau goals kita. Jangan sampe gak tercapai gegara kita kebanyakan basa-basi. 


Ibarat mau nyari cewe. Pdkt Dulu gak sih…


Cara kedua, bikin “Guide” atau pedoman untuk AI. Kita harus bikin pedoman biar AI punya wawasan sama perintah-perintah kita. 


Bentuk Guide adalah file (.pdf, .dm, atau .txt). Sebelum nge-prompt, masukin dulu file-nya. Cara ini gak bikin over-prompting. karena pedoman udah mengandung konteks kita.


Pedoman ini berisi, tujuan, contoh, batasan, gaya, audiens/goals, dll. Berarti harus ngasih data kita biar AI paham dong? Betul. 


Walaupun butuh waktu yang lama bikin panduan atau pedoman ini. Tapi efisien, gak harus jelasin ke AI pelan-pelan. Cukup masukin pedoman dan tinggal nge-prompt.


Aku lebih suka Guide buat ngembangun konteks. Karena ngurangin asumsi AI, gak makan waktu yang lama, dan lebih sesuai sama kita.


*Guide ini bukan hasil akhir. Kita masih perlu baca-baca, ngasih tau kurangnya apa, nambahin bagusnya kayak gimana. Finalnya ada ditangan kamu.


Contohnya Guide “Menulis Gaya Hanif,”





AI Bukan Alat


Kayak yang aku sebutin di awal. AI seringkali dijadikan pengganti otak. Makanya ada orang yang susah nge-prompt dan nyuruh AI buat bikin promptnya sendiri. 


Jika kita menganggap AI cuma alat aja. Kita jadi kurang kreatif dan ngandelin AI buat mikir sepenuhnya. Makanya, anggap AI rekan tim, asisten atau teman kerja. 


Caranya dengan ngelatih, diberi masukan, diskusi dan kalau bisa, bikin AI mampu bertanya sama kita. Kayak,


“Apa yang ingin kamu ketahui tentang proyekku … agar kamu dapat merespon dengan baik?”


Kalau AI cuma jadi alat, itu kayak komunikasi khotbah jumat, satu arah doang. Tapi kalau jadiin AI rekan tim, komunikasinya jadi dua arah. 


Kenapa perlu komunikasi 2 arah? Karena banyak dari kita yang “puas” dengan hasil AI tanpa evaluasi. Seakan-akan AI kayak kalkulator, jawabannya pasti.


Masalahnya, AI ini gak bisa dipercaya. AI seringkali hallucinations. Kalau kita terbiasa nerima jawaban AI tanpa koreksi, gimana gak bikin gobl*k?


Jadi, sah-sah aja kalau mau jadiin AI cuma alat. Tapi AI akan menghasilkan respon yang berkualitas jika kita anggap AI rekan tim.


Karena komunikasi timbal balik ngebentuk proses iterasi atau pengulangan sampe punya hasil yang akurat. (Prompting–Respon–Revisi).

Kesimpulan


Anyway, tiap orang pake AI buat hal yang berbeda-beda. Aku butuh satu bulan buat ngulik cara menggunakan AI untuk nulis gayaku sendiri. Dan hasilnya belum bisa 100% kayak tulisanku.


Intinya adalah bangun konteks dengan tepat, gunakan skill, perspektif, pengetahuan, dan pengalaman diri kita.


AI adalah cerminan kita. Jika kamu malas dan cuma nyuruh AI. Maka dia akan melakukannya. Jika kita belajar dengan AI, maka dia akan melakukannya.


“Kita semua punya akses yang sama ke AI. Yang bedain adalah gimana cara kita menggunakan AI...”

Gak perlu jago coding atau paham Python. Kita punya kesempatan yang sama. Kamu cuma perlu terbuka dan mau belajar.


Makasih udah baca...
Terima kasih telah melihat tulisan saya