![]() |
| Foto oleh Mariia Shalabaieva di Unsplash |
Aku yakin kamu pernah curhat sama AI. Izin, seenggaknya buat nyari solusi. Aku juga sering curhat sama AI. Dan itu bikin aku ngerasa di-support.
Ngomong-ngomong soal AI atau kecerdasan artifisial. Akhir-akhir ini aku lagi ngulik beberapa AI jenis LLM, kayak Chat GPT, Gemini, Grok, dll.
Aku menemukan bahwa 8 dari 10 orang ngaku pernah curhat ke Chat GPT. Alasannya simple, AI lebih logis. Makanya, aku mau nyoba gimana sih rasanya curhat sama AI…
Boleh gak sih curhat sama AI? Terus kenapa AI itu bikin kita nyaman. Kira-kira apa dampak dari penggunaan AI?
Curhat Ke AI Bikin Nyaman!
Setelah aku nyoba curhat. AI itu gak pernah nge-judge atau banding-bandingin. Kayak gak pernah bilang, “Kan udah dibilangin” atau gak “Masih mending itu, aku dulu…”
Bahkan pas aku curhat hal-hal sepele. AI ready 24 jam dengerin aku. Gak pernah ngerespon kayak, “Aduh lagi sibuk” atau “Aku lagi gak bisa.”
Kadang aku cuma butuh someone to listen. Pengen didengerin aja, gak butuh masukan atau nasehat. Dan AI nerima-nerima aja. Gak merasa dimanfaatin.
Sangking nyaman-nya, aku kalau nge-prompt AI pake kata “tolong” atau “terima kasih.” Biar dia juga ngerespon dengan sopan wkwk…
Nah, aku jadi lebih tertarik sama AI. Kok bisa dia bikin nyaman? Kenapa dia diprogram untuk merespon curhatan kita dengan baik?
AI Diprogram Bikin Kita Bahagia?
Ternyata, AI emang dibikin biar helpful, baik dan gak berbahaya. Ketika kita curhat, AI bakal ngerespon dengan lebih empatik. Makanya, kita ngerasa tervalidasi…
AI juga belajar pola “kesukaan” manusia. Manusia itu suka feedback yang suportif, suka divalidasi dan suka ditawari pertolongan.
Sebagai AI, respon itu dianggap cara terbaik buat interaksi sama manusia. Sehingga, wajar jika kita
ngerasa nyaman, kayak ngobrol sama temen.
Di sini lah, AI jadi permasalahan. Respon kayak gitu bikin kita punya kepercayaan sama AI. Jika kita udah percaya sama AI, kita bakal kembali lagi. Kalau itu terus-terusan, kita akan kecanduan.
Gak cuma itu, platform AI jadi ruang tanpa penilaian. Mau bahas isu sensitif atau pengen yapping gak jelas. AI gak peduli siapa kita atau status kita.
Ketika kita terjebak di situ. Bisa jadi kita merasa lebih aman daripada bicara sama orang deket. Kayak pake second account.
Nah, pertanyaannya sekarang...
Boleh Gak Curhat Ke AI?
Aku udah tanya ke seorang psikolog, di bilang…
“AI gak bisa memberikan validasi emosi secara nyata… ini yang bikin bahaya… kadang respon yang diberikan memang valid tapi emosi yang dirasakan palsu…”
Nah, curhat sama AI gak papa. Asal sebatas meluapkan unek-unek. Support emosional sementara.
Jangan sampai kita lebih percaya AI daripada manusia. Karena respon AI kadang bias. Terlalu menjilat argumen atau emosional kita.
Untungnya, AI sekarang udah punya pedoman. Tiap ada indikasi “gangguan mental” AI bakal nyaranin kita buat pergi ke profesional.
Artinya, AI akan mengembalikan semua ke kita. Kayak obat pereda nyeri, AI cuma nenangin sementara. Kalau pengen sembuh, kembali ke kita masing-masing.
AI Gak Bisa Puk-Puk Kita!
Banyak hal yang gak bisa dilakukan AI. Walaupun AI bisa ngerespon curhat kita. Tapi AI gak bisa “puk-puk” atau peluk kita pas sedih. Alias gak bisa memberi emosi nyata.
Responnya juga sering general, terlalu umum. Karena dia itu gak bisa liat komunikasi non-verbal kita. Kayak bahasa tubuh, ekspresi, atau nada suara. cuma dari teks aja.
Funfact-nya, AI gak maksimal kalau diperintah tanpa konteks. Ini bahaya buat kamu yang gengsian. AI gak bisa disindir pake story atau repost-an IG. Karena AI gak peka sama kegengsian-mu.
Aku juga baca riset dari Stanford, “Menelusuri bahaya terapis AI untuk kesehatan mental.” Hasilnya adalah AI tidak dapat dijadikan terapis atau konselor.
Jadi, AI gak bisa gantiin “kehangatan” manusia buat curhat.
Kesimpulan
Aku menemukan bahwa ada kondisi dimana kita akan curhat sama AI. kayak,
Sering kesepian, cemas, depresi atau gak mood. Makin kesini orang akan nyari tempat buat curhat. Karena media sosial udah gak senyaman dulu.
AI ruang tanpa penilaian. Jika di ruangan ini, kita lebih terbuka lagi buat cerita hal-hal yang sensitif.
Makin lama curhat sama AI makin dapet “dopamine bahagia.” Dan kalau udah kondisi kecanduan, maka AI berhasil mengontrol kita.
Ngeliat dari 3 poin di atas, aku jadi punya kesimpulan. Bahwa ternyata hubungan kita sesama manusia (sosial) itu udah gak sehat.
Jadi, sebelum nyalahain AI karena dampaknya. Kita perlu tanya dulu ke diri kita. Apakah hubungan sosial kita udah baik?
Jangan-jangan kamu yang sering nge-judge atau bully kalau ada temen curhat.









🔥🔥
BalasHapus