Review Buku The Let Them Theory Karya Mel Robbins - ahmad hanif

Review Buku The Let Them Theory Karya Mel Robbins

Review Buku The Let Them Theory Karya Mel Robbins



Kamu pernah lihat buku ini ga? Buku ini sering banget muncul di Instagram. Dan ternyata jadi salah-satu buku non-fiksi paling laris di tahun 2025. 

Yap, buku ini adalah The Let Them Theory karya Mel Robbins. Dia adalah seorang pakar pengembangan diri, presenter dan juga motivator terkenal. 

Dia mengklaim mampu menyederhanakan topik-topik yang kompleks menjadi tindakan praktis sehari-hari. Termasuk terciptanya teori “Biarkan Mereka.”

Mel membuat teori Let Them ini ketika merasa hidupnya masih melelahkan. Padahal dia sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri.

Dalam risetnya, dia menyadari bahwa menanggapi hal-hal di luar kendali menyebabkan ia sulit untuk mencapai tujuan atau sulit bahagia.

Nah, argumen Mel adalah bersikap membiarkan mereka – let them. Dengan membiarkan sesuatu di luar kendali, kata Mel akan mengubah hidupmu dan hidup mereka lebih baik lagi.

Terlihat apatis, dingin, kejam atau nir-empati bukan? Pas baru baca, aku juga mikirnya gitu…

Faktanya, semakin kita berusaha mengendalikan seseorang, semakin kita kelelahan. Sedangkan manusia memiliki naluri untuk memegang kendali orang lain.

Konsep ini terdengar seperti dikotomi kendali miliki Stoikisme. Dan emang bener, buku ini juga mengambil filosofi kuno itu. Tetapi, Mel mengubahnya menjadi lebih praktis.

Di tulisan kali ini, aku bakal membahas bagaimana cara kerja teori Let Them, apakah relevan untuk zaman sekarang? apakah benar teori Let Them bikin kita apatis? 


Teori Let Them Tentang Apa?


Aku sendiri ga menemukan pengertian secara konkret teori Let Them. Bukunya juga ga ngasih tau secara harfiah, cuma dikasih contoh nyatanya saja.

Dan aku ngira membutuhkan fokus mendalam untuk memahami teori ini. Tapi Mel merubahnya menjadi sangat sederhana. Kamu hanya cukup mengatakan, “Biarkan Mereka…”

Biarkan mereka kesulitan… let them...
Biarkan mereka bersedih…
Biarkan saja mereka menilai dirimu…
Biarkan dia pergi meninggalkanmu…


Kenapa kita harus membiarkan mereka melakukan sesuatu yang buruk? Kenapa kita perlu membiarkan mereka terpuruk dan bersedih? Kenapa kita menerima penghakiman orang lain?

Menurut Mel, kita ga bisa mengendalikan sesuatu di luar kendali kita. Kamu ga bisa mengendalikan pikiran, sikap, kelakukan, emosi orang lain.

Termasuk dengan cara pandang mereka terhadap kita, kesulitan yang mereka alami atau apa yang akan dilakukan mereka kepada kita.

Itu semua membuat kita lelah dan overthinking setiap waktu. Kamu bakal capek sendiri kalo coba mengendalikan keadaan, sifat, atau kelakuan orang lain. 

Mel yakin bahwa saat kamu melepaskan apa yang di luar kendalimu, hidup akan lebih baik dan bahagia. Bahkan bikin mereka juga bahagia melakukan hal yang mereka inginkan.

Tapi tunggu dulu, Mel mengingatkan kita bahwa membiarkan mereka bukan berarti kita pasrah atau pasif. Teori Let Them ga ngajarin kita buat nir-empati.

Dalam buku ini, setelah kita bisa membiarkan mereka untuk melakukan hal yang ga bisa kita kendalikan, lakukanlah sesuatu yang bisa kita kendalikan. Kita bisa bilang, “Biarkan aku…” 

Ketika mereka menilaiku, biarkan aku menjauhi mereka
Saat mereka jahat sama kamu, biarkan dirimu cut off mereka
Jika dia membuatmu patah hati, biarkan dirimu menangis
Biarkan mereka dan biarkan aku mengendalikan apa yang bisa dikendalikan…

Di sini muncul kelemahan dari buku The Let Them Theory. Menurutku, untuk menerapkan teori “biarkan aku,” butuh kesadaran, kedewasaan atau kebijaksanaan.

Tanpa hal itu, teori “biarkan aku” akan terasa kurang tepat. Karena, ga semua orang mampu menyikapi sesuatu dengan bijak, dewasa ataupun tepat.

Masih ada orang yang belum cukup dewasa untuk menghadapi situasi sulit. Masih ada orang yang belum bijak dalam menentukan keputusan rumit. 

Bayangkan seseorang yang punya trauma, depresi, atau penyakit kronis.  Berkata, “Biarkan mereka” ke orang yang punya trauma ga selalu membuat dia kuat, terkadang membuat keterpurukan makin parah. 

3 Pelajaran Dari Teori Let Them Yang Membuatku Tenang


Terlepas dari itu semua, buku ini memberikan kesan yang menarik untuk kita refleksikan lagi ke hal-hal yang ga bisa kita kendalikan.

Mel membahasnya menjadi beberapa situasi dalam kehidupan sehari-harinya. Dan aku suka penerapan teori Let Them pada 3 situasi ini:

Pendapat Negatif Orang Lain


Kata Mel, kita ga bisa mengendalikan pendapat negatif orang lain, maka biarkan mereka berpendapat. Terbiasalah menerima perbedaan pendapat.

Menurutnya, semua orang dewasa pasti menilai sesuatu. Saat dewasa, kita cenderung membedakan mana yang baik dan buruk. Dan itu wajar.

Yang bisa kamu kendalikan adalah membiarkan mereka berpikir negatif tentang postinganmu. Biarkan mereka ga setuju akan prinsipmu, tentang hal yang kamu inginkan…

Kalo boleh bilang, capek tau berusaha terlihat baik atau sempurna di depan orang lain. Walaupun kamu baik, akan tetap buruk di mata orang yang benci kamu.

Intinya, teori Let Them nyuruh kita sadar bahwa pendapat orang lain bukan kendali kita, entah baik atau buruk. Capek sendiri kalo kita kekeh mengendalikan.

Mengendalikan Cinta


Bagian yang menarik kedua menurutku adalah ketika Mel mengajarkanku tentang apa saja yang bisa kita kendalikan saat mencintai.

Argumen Mel adalah kita ga bisa mengendalikan orang lain agar mencintai diri kita. Sekeras apapun kamu berusaha. Ini kontra dengan pepatah, “Witing tresno jalaran songko kulino.”

Tapi aku setuju dengan Mel, bahwa menuntut seseorang untuk mencintai diri kita merupakan awal kekecewaan. 

Sama halnya dengan menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain. Padahal kebahagiaan kita berasal dari kita sendiri.


Kamu bakal kecewa jika orang lain ga bisa membahagiakan kamu. Aku menulis lebih detail soal mengendalikan cinta di Medium – jurnal mingguan.

Teori Let Them memperingatkan kita bahwa yang bisa dikontrol itu cinta kita, bukan agar dicintai. Berusaha agar kita dicintai bakal bikin kita capek dan ga jujur.

Cara Merubah Seseorang


Mel berargumen bahwa kita ga bisa mengendalikan orang lain. Di sisi lain, berusaha memegang kendali adalah naluri manusia.

Di awal, Mel udah bilang kalo dia pun gak bisa memotivasi seseorang buat berubah karena yang bisa merubah adalah dirinya sendiri.

Segigih apapun kamu nyuruh pasangan kamu berhenti merokok, walau dengan ancaman, dia ga akan bisa berubah kecuali dari dirinya sendiri.

Kamu bakal capek dan kesel kalo maksa orang lain berhenti merokok. Yang bisa kamu lakukan adalah membiarkan mereka merokok.


Kita harus menerima bahwa pasangan atau orang terkasih kita merokok. Punya pasangan perokok itu pilihanmu sendiri. Terus gimana kalo (takdir) punya orang tua yang merokok? 

Nah, Mel Robbin ngasih tahu cara agar seseorang memilih untuk berubah atas dirinya sendiri. Kamu bisa menemukannya di buku The Let Them Theory.

Apa Arti Let Them Theory?


Konsep melepas kendali ini sebenarnya bukan hal baru. Saat membacanya, aku justru teringat dengan filosofi Buddhisme. Aku ga tau persis ini kutipan dari mana, tapi bunyinya gini: 

Seseorang pernah berkata kepada Buddha, “Aku ingin bahagia.” Terus Buddha jawab, “Pertama, hilangkan (Aku)… aku adalah ego. Lalu hilangkan (Ingin)… ingin adalah hasrat. Lihat, sekarang yang tersisa hanya (Bahagia).”

Kutipan ini mengajarkan cara mendapatkan kebahagiaan dengan melepas keterikatan dari hal-hal yang membelenggu dan berasal dari diri kita. Ego dan Hasrat.

Bahwa kebahagiaan itu bukan sesuatu yang dicari. Bahagia itu sudah ada tapi tertutup ego dan hasrat diri sendiri. Kita perlu menyingkap penutupnya.

  • Kata ‘Aku’ dianggap sebagai kebutuhan yang penting. Seperti, aku kurang baik – aku harus berhasil, seakan takdir kita kurang cukup menjadikan kita bahagia.
  • Kata ‘Ingin’ juga dianggap gangguan, menurut Stoik. Hasrat ga ada habisnya, makanya perlu dihindari, termasuk ingin bahagia secara berlebihan. Keinginan perlu dikelola secara bijak.

Bukan berarti kita harus menghapus ego dan hasrat, cukup dilonggarkan. Ga perlu digenggam terlalu erat. 

Begitu juga dengan teori Let Them yang fokus pada membiarkan mereka. Kebahagiaanmu bukan tanggung jawab mereka, ia ada saat kamu menyadarinya.

Berhenti memaksa orang lain untuk berubah sesuai keinginan kita. Klaim buku the let them theory adalah membiarkan mereka bisa mengubah hidupmu dan orang di sekitarmu jadi lebih baik.

Biarkan mereka menilaimu negatif. Ga perlu menanggapi dengan berusaha terlihat baik atau sempurna. Biarkan dirimu jujur apa adanya. 

Setelah Menutup Buku Ini


Setelah menutup buku ini, aku teringat kembali dengan hal-hal di luar kendaliku, yang sebenarnya penghalang kebahagiaan. Bukan mereka, tapi diriku sendiri.

Kayak, aku udah capek-capek memperbaiki diri tapi lupa menerima kenyataan atau takdir. Ngapain aku mengejar kebahagiaan, kalo menerima keadaan jauh lebih mudah untuk bahagia.

Teori Let Them membuatku menyadari kembali sesuatu yang bikin jengkel atau stres dalam sehari-hari. Aku sering banget gregetan sama orang tuaku sendiri karena ga bisa dibilangin. 

Suka nimbun dan ngumpulin barang bekas, ga suka kalo barangnya dipindah, atau marah-marah karena hal sepele. Yang pada akhirnya, aku membiarkan mereka sesuka hati.



Ketika aku biarkan mereka, ada perubahan sikap yang lebih tenang, jarang marah atau ngomel-ngomel. Membiarkan mereka juga berpengaruh denganku, mereka membebaskanku.

Ingat ga, kalo kita itu ga bisa mengendalikan orang lain. Ketika kita berusaha mengendalikan mereka, yang ada hanyalah pemberontakan, marah-marah, atau defensif.

Tulisan ini adalah refleksi dari apa yang aku dapatkan setelah membaca. Ga berisi rangkuman buku. Jadi, ga perlu mengambil rokok atau orang tua sebagai validasi.

Menurutku, gagasan utama buku ini sebenarnya bisa dirangkum jadi satu esai atau artikel daripada jadi buku 300 halaman yang penuh pengulangan.

Kalo ditanya, ini relevan atau ga? Aku akan jawab, relevan tapi ga pembaharuan. Stoikisme dan Buddhisme udah ngomongin hal ini, bedanya cuma dibikin praktis, simpel, dan sederhana.

Contoh penerapan teori Let Them juga sesuai dengan pengalaman, opini atau menurut Mel sendiri. Padahal riset psikologinya menarik banget karena menyajikan fakta-fakta yang banyak orang ga tau.

Yang bikin pacing-nya kurang dan jadi lambat adalah terlalu banyak repetisi atau pengulangan argumen. Menurutku, bertele-tele dan membuatku ga terlalu penasaran.

Tapi jangan salah, buku The Let Them Theory sangat ringan untuk dibaca sehingga cocok banget buat pembaca yang baru atau ingin masuk ke genre pengembangan diri.

Untungnya, kalimat-kalimat yang digunakan sangat memotivasiku. Ketika kita lagi butuh validasi atau jalan keluar, membaca buku ini membuat kita bilang, “Anjir, iya juga…”

Btw, buku ini aku pinjam dari temanku. Yah, kalo beli buku terus-terusan bikin boncos. Kalo kamu mau beliin atau minjemin, bisa dm IG atau kontak email ku, hehe…

Rating Buku The Let Them Theory aku kasih 3.1 / 5 ⭐️ Beberapa alasannya aku rangkum dalam 5 poin:

Akurasi/Fakta : 3
Sistematika : 3
Penulisan/Narasi : 3
Manfaat Praktis : 4
Kedalaman Materi : 2.5 


Makasih udah baca…
Terima kasih telah melihat tulisan saya