How to Win Friends & Influence People adalah buku yang berisi panduan untuk mendapatkan teman dan bisa mempengaruhi orang lain.
Dale Carnegie meyakini bahwa untuk mempengaruhi orang lain kita perlu merubah sikap kita terhadap mereka.
Sebenarnya buku ini punya beberapa versi. Saya membaca How to Win Friends & Influence People versi in the Digital Age, terjemahan bahasa Indonesia tahun 2012 oleh Gramedia Pustaka Utama.
Ada beberapa perbedaan antara versi lama dengan yang baru. Salah-satu perbedaan yang menonjol adalah beberapa pembahasan direvisi agar sesuai dengan konteks pada era digital saat ini.
Jika dulu harus bertemu tatap muka untuk mendapatkan teman, sekarang cukup menggunakan media sosial.
Seperti klaim buku ini yang menyatakan bahwa apa yang ditulis oleh Dale Carnegie di zaman dulu masih bisa relevan sampai sekarang.
Awalnya saya berharap isi bukunya menjelaskan bagaimana influencer-influencer terkenal zaman sekarang mempengaruhi orang lain. Ternyata tidak sesuai harapan saya.
How to Win Friends & Influence People lebih dominan menceritakan anekdot dan pengalaman-pengalaman penulis. Kemudian berbagi tips dan trik cara menjadi orang baik bagi sosial di sela-sela cerita.
Saya juga kecewa dengan terjemahan bukunya yang kurang baik. Mulai dari gramatikal kalimat yang amburadul, diksi yang tidak sesuai konteks, atau penyusunan paragraf yang terbalik.
Hal tersebut membuat saya tidak hanya kesulitan memahami, tapi juga butuh ekstra fokus menerjemahkan pesan yang ingin disampaikan. Untungnya, ada AI yang bisa menjelaskan pembahasan buku ini dengan lebih sederhana.
Ringkasan Buku How to Win Friends & Influence People in the Digital Era
Prinsip yang diajarkan buku How to Win Friends & Influence People bukan hanya untuk para politikus, pemimpin, atau manajer. Prinsip ini bisa diterapkan oleh semua orang. Karena tujuan dari Carnegie sebenarnya mulia, “Memanusiakan Manusia.”
Jika ingin manusia lain menghargaimu, kamu harus menghargai dulu manusia lain. Seperti prinsip sebab-akibat atau timbal-balik.
Namun, pada kenyataannya berbeda. Orang-orang cenderung ingin dihargai dulu, barulah mereka akan menghargai orang lain. Ingin didengar dulu, barulah mau mendengarkan orang lain. Sifat seperti ini disebut dengan egois.
Bicara soal sifat naluriah manusia yang mementingkan diri sendiri, buku ini terus-menerus memperingatkan kita agar jangan egois. Pengaruh kita akan sulit diterima jika kita mementingkan diri sendiri dan mengabaikan minat atau ketertarikan orang lain.
Karena itu, Carnegie menyarankan agar membahas apa yang menurut mereka penting, bukan apa yang menurutmu penting.
Seperti halnya influencer yang sering melakukan eksperimen sosial, memborong dagangan, memberi challenge dengan imbalan uang, membagikan sembako, dll. Apa yang influencer berikan adalah kebutuhan dan minat sebagian orang saat ini.
Ironisnya, kebutuhan yang tidak abadi akan menghasilkan pengaruh-pengaruh yang dangkal dan sekejap. Maka dari itu, sebagai panutan kita perlu memiliki pengaruh-pengaruh yang abadi.
Buku How to Win Friends & Influence People menekankan bahwa pengaruh tidak membutuhkan pendidikan atau pengalaman. Pengaruh juga tidak ditentukan oleh seberapa banyak jumlah pengikutnya.
Ada banyak influencer atau tokoh internet yang punya jutaan pengikut dengan konten-konten viral. Tapi kalau kamu memilih panutan, pilih Willie Salim dengan 39 juta subscriber atau Raditya Dika dengan 11 juta subscriber?
Kemungkinan besar orang-orang akan memilih Bahlil, maksud saya Raditya Dika, sebagai panutan.
Artinya adalah pengaruh yang abadi tidak bisa asal dimiliki. Perlu sikap dan usaha yang berhubungan dengan “Bisnis Kemanusiaan.” Sehingga pengaruhnya tidak hanya bisa berdampak sesaat tetapi bisa berkelanjutan.
Dalam buku ini, Carnegie memberikan panduan supaya orang lain menyukai kita, kemudian kita bisa mempengaruhinya:
- Jangan menghakimi orang lain walaupun dia salah. Itu tidak hanya membuat orang lain defensif tetapi juga mencoreng nama baik kita sendiri.
- Berikan pujian yang tulus, bukan karena ingin mendapatkan imbalan. Pujian dan apresiasi akan membuat orang lain termotivasi, sehingga hubungan pertemanan jadi lebih dalam.
- Berikan pengakuan bahwa dia adalah Hero atau jalan kesuksesan diri kita. Mengakui diri sendiri bahwa kita sukses karena kerja keras sendirian adalah bentuk keegoisan.
- Bicarakan apa yang menjadi minat orang lain, bukan minat diri kita sendiri. Orang lain lebih teringat dengan orang yang menghargai dunia mereka. Jangan terlalu banyak berargumen lalu memulai debat.
- Coba belajar mendengar, menyimak, memahami daripada menyampaikan ketidaksetujuan dengan keras.
- Berempati. Alasan seseorang disebut orang baik bukan karena berpendidikan tinggi, punya karier cemerlang, kaya raya, atau terkenal, tapi karena mau berempati.
Relevansi How to Win Friends & Influence People di Era Digital
Carnegie sebenarnya ingin kita tahu cara berkomunikasi dengan baik di era digital. Namun menurut saya terlalu memaksa memasukkan prinsip-prinsip tersebut ke dalam kebiasaan kita menggunakan media sosial.
Sebab, komunikasi di zaman sekarang sudah mengalami perubahan budaya yang begitu pesat. Sedangkan How to Win Friends & Influence People versi in the Digital Age masih membahas kebiasaan di era surel, Facebook atau Twitter.
Pengaruh-pengaruh dari platform media sosial seperti TikTok, Instagram, bahkan AI juga perlu dimasukkan. Karena teknologi baru itulah yang membuat kebiasaan kita berkomunikasi dan bersosialisasi ikut berubah.
Seperti ketika kita menghargai sebuah postingan zaman dahulu dan sekarang. Dulu kita menghargai sebuah postingan dengan like atau komentar yang panjang. Sekarang kita sering menggunakan emoji api, gif, ataupun stiker yang mengekspresikan perasaan kita.
Dulu, orang-orang pacaran lewat telpon sambil mencabut rumput. Sekarang orang-orang pacaran lewat Discord sambil main Roblox. Dulu, HRD menginterview calon pekerja butuh waktu yang lama, sekarang tinggal stalking media sosialnya.
Hal-hal seperti ini membuktikan bahwa berkat adanya internet dan media sosial kita lebih mudah mempengaruhi orang lain. Namun perlu diingat, apapun yang ada di internet khususnya media sosial harus kita saring.
Banyak sekali informasi dan komunikasi yang memang ditujukan untuk menjatuhkan seseorang dan merusak pemahaman kita. Seperti berita hoax, konten missinformasi, konten rage bait, dll. Begitu juga dengan timbulnya pengaruh-pengaruh yang dangkal dan sekejap.
Refleksi Setelah Membaca Buku Ini
Masalah komunikasi manusia yang belum bisa hilang sampai sekarang adalah kesalahpahaman. salah satu penyebabnya adalah referensi kita berbeda-beda. Di Sumatera, mobil disebut kereta. Di Jawa tengah, motor disebut honda. Di Internet, berbeda pendapat dikatain goblok.
Antara mudah dan sulit mempengaruhi orang lain di era Prabowo ini. Dibilang mudah karena dunia maya sudah mengelompokkan orang berdasarkan minat dan ketertarikan masing-masing. Biasa kita sebut sebagai Niche.
Dibilang sulit karena internet khususnya media sosial sekarang jadi tempat semua orang mengekspresikan diri, bukan mencari teman lagi. Selain itu, menurut kepercayaan saya, banyak orang kurang menghargai perbedaan dan ingin selalu benar.
Buku How to Win Friends & Influence People in the Digital Age cocok untuk orang yang ingin mendalami keterampilan komunikasi di era digital. Saran-saran dari Dale Carnegie ini bisa memudahkan kita untuk membangun sebuah hubungan, mencari teman, sampai membuat strategi pemasaran.