Review Novel Norwegian Wood Karya Haruki Murakami - ahmad hanif

Review Novel Norwegian Wood Karya Haruki Murakami

Review Novel Norwegian Wood Karya Haruki Murakami



Setelah menyelesaikan novel ini aku memikirkan, bagaimana cara menulis seperti Haruki Murakami? Yang dilebih-lebihkan tapi tidak berlebihan. Contohnya seperti ini.

“Aku ini manusia yang punya banyak waktu… Sampai-sampai aku ingin memberikan sedikit waktuku agar kamu bisa memanfaatkannya untuk tidur.”

Kalimat itu sebenarnya bisa kita ringkas hanya dengan bilang, ‘Tidurlah.’ Tapi Haruki memilih kalimat panjang itu daripada kata tidurlah. Bisa jadi karena perintah tidurlah dianggap kejam dan menghakimi untuk orang yang lelah fisik dan jiwa. 

Begitupun dengan cara Haruki menceritakan perasaan tokoh. Tidak ada kata sifat yang menunjukan perasaan tokoh. Seperti contoh ini yang menunjukan bahwa tokoh sedang khawatir dan rindu kepada seseorang.

Aku bangkit dan berdiri di samping jendela, untuk beberapa saat dengan nanap kupandangi undakan tempat penaikan bendera yang ada di tengah tengah halaman itu. Tiang putih yang tidak berbendera itu terlihat seperti tulang putih yang sangat besar yang menusuk kegelapan malam. Sedang apa Naoko sekarang? Aku bertanya-tanya. Tentu ia sedang tidur. Tentu ia tidur nyenyak diselimuti kegelapan dunia kecil yang aneh itu. Kudoakan agar ia tidak mimpi buruk.

Tidak ada satu kata khawatir atau rindu. Haruki memilih khawatir dengan kalimat, seperti tulang putih yang sangat besar yang menusuk kegelapan malam. Atau memilih rindu dengan kalimat, kudoakan agar ia tidak mimpi buruk.

Aku mengenal Haruki Murakami tahun lalu dari Raditya Dika. Aku lupa dari podcast atau Instagram, yang jelas Radit menyukai karya Haruki Murakami.

Hal pertama yang aku tahu tentang Haruki Murakami adalah ia memulai menulis saat berusia 29 tahun. Bagi orang-orang, ia sangat terlambat memulai karir. Dengan keterlambatannya ia diakui sebagai salah satu novelis berpengaruh di Jepang. 

Karena karya Murakami banyak, aku sempat meminta saran Gemini. Buku apa yang kamu rekomendasikan untuk memulai mengenal Haruki Murakami. Norwegian Wood, jawabnya. 

Mengapa Banyak Orang Menyukai Norwegian Wood.


Novel yang cukup aneh. Tidak ada daftar isi atau sub-judul di setiap bab. Mungkin orang awam atau orang yang tidak berminat membaca buku ini akan patah semangat. 400 halaman, berisi kalimat-kalimat panjang.

Tetapi semua itu terbayar karena Norwegian Wood adalah novel yang sangat ringan. Tidak perlu membaca dua kali untuk memahami  alur cerita. Sangat detail menjelaskan apa yang dirasakan setiap tokoh. 

Nama tokoh utamanya Toru Watanabe. Saat naik pesawat ia ingat cinta pertamanya (Naoko) karena mendengar lagu Norwegian Wood.  

Lalu ia bernostalgia, menceritakan bagaimana ia ditinggal oleh sahabat SMA nya (Kazuki) dan menjalin hubungan romantis dengan pacar sahabatnya sendiri, Naoko.  

Hubungan itu bukan pacaran, mungkin bisa disebut hubungan tanpa status (HTS). Yang aku tangkap dari perasaan dua orang ini adalah perasaan yang ruwet.

Watanabe suka sama Naoko. Sedangkan Naoko gamon ta. Tapi mereka sama-sama menjadikan diri mereka pelampiasan. Bahkan dengan hal-hal yang tabu.

Banyak yang berpendapat bahwa novel ini sangat menjijikan. Mengandung seks bebas dan objektivitas perempuan.

Ditambah lagi penulisan perasaan atau pesan yang implisit, tidak langsung dijelaskan. Membuat pembaca perlu mempertajam empati agar bisa merasakan perasaan tokoh. 

Kalau dipikir-pikir lagi, tema besar novel ini bukan cinta romantis. Tapi tentang kesehatan jiwa dan kehilangan arah. Sangat-sangat melankolis. Sedih, gamon, overthinking berkepanjangan.

Jadi, kenapa novel ini banyak yang suka? 

Mungkin karena mengangkat isu-isu depresi, kesepian, kehilangan, atau pendewasaan, membuat novel Norwegian Wood masih relevan di zaman sekarang.  

Mungkin juga cerita Norwegian Wood seperti kisah kita saat mengalami trauma dan patah hati yang sulit diungkapkan. Aku pun mengakui bahwa hanya dengan membaca.

Norwegian Wood: Lagu Duka & Kehilangan

Norwegian Wood adalah salah-satu lagu The Beatles yang bertema cinta masa lalu yang kelam dan kehilangan. Menandakan bahwa cerita bersetting di tahun 1960-an.

Katanya, Murakami dipengaruhi musik-musik barat. Dan lagu itu sewarna dengan tema ceritanya, kehilangan, penyakit jiwa, dan pendewasaan.

Aku sendiri tidak mendengarkan lagu-lagu era  The Beatles. Kalau ada adegan yang menyebut lagu kuno itu aku akan mencari padanan lagu era sekarang. Yang cocok untuk menggantikan sesuai tema.

Bagiku, tema seperti itu paling cocok mendengarkan lagu-lagunya Pamungkas dari Album Walk the Talk dan Hardcore Romance.

Atau lagu dari band asal Filipina Joe of Cup di album Silakbo. Dua lagu yang paling cocok untuk novel ini adalah Multo dan diakhiri dengan Pahina.

Aku percaya kalau lagu bisa jadi jembatan antara masa kini dan masa lalu. Aku pun akan teringat masa lalu atau peristiwa yang pernah terjadi hanya dengan mendengar lagu. Kalau ingin bernostalgia, mungkin aku akan memilih album Monokrom dari Tulus.

Bagian Paling Menarik


Ada tiga bagian paling menarik ketika membaca novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami. Bisa jadi ceritanya, pesan moralnya, atau suasananya.

Pertama, adegan dimana Toru Watanabe menceritakan teman asramanya Kopasgat. Dimana Kopasgat adalah tipe orang yang lurus, rajin, dan OCD (suka bersih-bersih berlebihan). 

Waktu itu Toru asbun kalau Kopasgat sering menggunakan foto sungai untuk menstrubasi. Aneh tapi aku senyum-senyum sendiri membacanya.

Kedua, karakter Toru yang menurutku penggambaran dari diriku sendiri ketika menghadapi rasa sakit karena kehilangan seseorang.

Aku seperti masuk ke dalam tubuh Toru merasakan kelumpuhan emosional, luka psikologis, dan tidak bisa lepas dari masa lalu.

Adanya kisah Toru Watanabe menyadarkanku tentang kesalahanku dulu yang memendam kesedihan dan mengisolasi diri untuk menyembuhkan rasa sakit emosional.

Ketiga, belajar menulis seperti Haruki Murakami. Walaupun aku membaca buku terjemahan bahasa Indonesia, dibantu penerjemah, tapi aku bisa memahami sebagus apa kata-kata Haruki Murakami.  

Jujur, novel ini membuatku belajar banyak hal tentang teknik menulis. Tulisan Haruki sangat deskriptif, sederhana, dan unik. Mungkin berkat kemampuan observasinya yang hebat.

Setelah Menutup Buku Ini


Setelah menutup buku ini aku jatuh cinta dengan Hikari Murakami. Aku tidak ingin banyak mengkritik Norwegian Wood, tapi memang alur cerita dan karakterisasi tokoh pendukung menurutku dieksekusi dengan buruk.

Aku tidak merekomendasikan novel ini dibaca oleh perempuan (yang modern dan mengangkat nilai-nilai feminin). Membacanya akan membuatmu marah. 

Aku juga tidak merekomendasikan buku ini untuk orang-orang yang punya gangguan kejiwaan, khususnya trauma atau depresi. 

Kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain.  —Nagasawa, teman asrama Toru Watanabe. 

Aku memberi rating Novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami bintang 3.5 Berikut lebih detailnya. 

Cerita (2.5)
Penokohan (2.5)
Setting (4)
Penulisan (5)
Pesan Moral / Fakta menarik (3.5) 

Makasih udah baca...
Terima kasih telah melihat tulisan saya