Review Buku Generasi Cemas Jonathan Haidt - ahmad hanif

Review Buku Generasi Cemas Jonathan Haidt

Review Buku Generasi Cemas Jonathan Haidt

Review Buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt tentang kesehatan mental Gen Z


Februari. Sebenarnya, aku lebih suka buku fiksi daripada non-fiksi. Mungkin karena aku lebih mudah tenggelam dengan cerita daripada data-data.

Aku memilih buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt karena terpilih menjadi buku favorit non-fiksi di Goodreads tahun 2024.


Aku kira buku ini bakal ngomongin kenakalan Gen Z. Ternyata, buku ini justru menampar kita sebagai orang dewasa tentang kesalahan pola asuh di era digital.


Kayak membahas kapan waktu yang tepat memberi anak-anak akses smartphone. Atau saran untuk orang tua, guru dan instansi agar anak-anak terhindar dari gangguan mental.

Di tulisan ini, aku tidak hanya membahas apa saja isi bukunya. Aku juga sharing pengalamanku terkena gangguan mental karena media sosial.


Buku The Anxious Generation Tentang Apa?


Secara garis besar buku The Anxious Generation (generasi cemas) membahas tentang krisis kesehatan mental yang disebabkan oleh dua faktor bertentangan. 


Yaitu, parenting atau pengasuhan anak yang over proteksi di dunia nyata. Tapi kurang proteksi atau kurang memperhatikan anak-anak di dunia maya. 


Buku ini memberi kita ironi bahwa sebagai orang tua, kita terlalu protektif ketika mengasuh anak di dunia nyata.


Seperti, melarang anak keluar rumah tanpa didampingi orang tua. Atau membatasi jam bermain anak-anak di dunia nyata. 


Di sisi lain, orang dewasa seringkali luput membiarkan anak-anak berselancar di dunia maya, padahal internet itu penuh bahaya. 


Anak-anak bisa saja mengakses situs pornografi atau bermain media sosial dengan bebas. Padahal media sosial adalah sarang penjahat, khususnya predator seksual.


Review Buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt tentang kesehatan mental Gen Z


Jonathan meyakini bahwa dua hal itu menjadi alasan utama, kenapa anak-anak yang lahir saat internet dan smartphone datang, lebih tinggi tingkat kecemasannya. 


Ia juga membahas tentang apa saja aspek-aspek penting pada masa kanak-kanak. Jujur, aku sangat suka pembahasan ini. Berikut ringkasannya:


  • Anak-anak membutuhkan permainan bebas agar memperkuat sifat Anti-rapuhnya. Seperti, kuat menghadapi tekanan, tantangan, konflik, dll.
  • Tren pola asuh Safety-ism orang tua sekarang, membuat anak jadi rapuh. Safety-ism itu sama kayak over protektif ke anak. Apapun harus mengutamakan keselamatan anak. 
  • Masa kanak-kanak (0-15 tahun) adalah masa dimana mereka mencari panutan orang lain. Mereka bisa saja meniru influencer (prestise) yang kurang baik.
  • Smartphone adalah penghambat kedua setelah safetyism. Anak-anak akan kekurangan pengalaman yang nyata dan mengalami pubertas dini.


Gagasan utama buku Generasi Cemas yaitu adanya smartphone, internet dan media sosial, membuat generasi yang lahir di tahun 1995 ke bawah menjadi generasi cemas.



Apa Itu Generasi Cemas?


Generasi cemas adalah julukan untuk generasi yang mengalami tingkat kecemasan dan gangguan kesehatan mental lebih tinggi daripada generasi sebelumnya.


Aku sendiri kurang setuju kalau Gen Z dijuluki sebagai generasi cemas. Pada saat ini, banyak generasi lain yang meniru perilaku Gen Z seolah mereka adalah digital native.


Dalam keseharian, aku justru melihat orang-orang dewasa yang mulai kecanduan dengan smartphone dan media sosial. 


Siang–malam mereka terpaku menatap layar smartphone. Menikmati video hasil AI atau menonton video lucu ngakak kocak. 


Parahnya lagi, mereka seringkali terpapar konten misinformasi dan membawanya ke dunia nyata. Biasanya soal kesehatan, agama, dan berita politik.


Review Buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt tentang kesehatan mental Gen Z


Aku juga menemui orang-orang dewasa yang gaptek atau kurang paham teknologi baru. Dan menurutku ada dua tipe orang gaptek. 


Pertama, tipe yang memasrahkan urusan teknologi baru ke kita. Kedua, tipe yang tidak terbuka dengan munculnya teknologi baru ini.


Kasus-kasus di atas malah memunculkan pertanyaan baru bagiku. Apakah buku ini untuk menghakimi kita? Atau mencari kesalahan orang tua kita?


Bagian ini membuat ku punya argumen baru tentang krisis kesehatan mental yang dialami orang-orang pada saat ini.


Bahwa penyebab gangguan kesehatan mental bukan hanya dari kesalahan pola asuh generasi sebelumnya. Bukan hanya media sosial, teknologi baru, atau kebijakannya.


Krisis kesehatan mental bisa jadi disebabkan dari perilaku kita yang kurang tepat. Perilaku kita yang tidak bisa menggunakan teknologi baru dengan bijak.


Kenapa Media Sosial Lebih Membahayakan Perempuan?


Buku The Anxious Generation menjelaskan kecenderungan pengguna media sosial dengan membedakan antara laki-laki dan perempuan. 


Riset yang dipaparkan Jonathan menunjukkan bahwa perempuan jadi pengguna berat media sosial. Sementara laki-laki punya masalah dengan game online yang jauh lebih tinggi.


Ia memberi alasan kenapa media sosial merugikan anak perempuan dibanding laki-laki. Mereka lebih terpengaruh dengan perbandingan sosial secara visual dan perfeksionis.


Sementara laki-laki yang kecanduan game online punya dampak yang nyata. Mereka menarik diri dari sosial dan mengalami kegagalan dalam hal apapun (ansos).


*Laki-laki lebih mengkhawatirkan kematian sosial daripada kematian fisik. 


Dampak dari kebiasaan antara laki-laki dan perempuan juga berbeda. Perempuan lebih cepat terkena depresi. Sedangkan laki-laki, mengarah ke pengakhiran hidup.


Review Buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt tentang kesehatan mental Gen Z


Aku tertarik sekali dengan pembahasan media sosial. Tanpa memandang gender, menurutku media sosial sekarang sangat berbahaya.


Jika tidak bijak menggunakan media sosial, kemungkinan besar kita bisa terkena gangguan kesehatan mental. 


Kenapa Media Sosial Membuat Krisis Kesehatan Mental?


Buku Generasi Cemas mengingatkanku dengan teori Jean Baudrillard. Yang dulu pernah aku tulis di blog. Tapi aku coba menggabungkan di sini. 


Aku akan menganalogikan konten media sosial dengan makanan. Bahwa mengkonsumsi makanan lezat (konten) yang banyak mengakibatkan muntah (over-information). 


Masalahnya, sebagian besar makanan yang lezat itu tidak baik/beracun bagi tubuh kita. Kenapa makanan lezat kok bisa beracun? Kita bisa lihat siapa yang memasak:


  • Anonimitas – Pembuat makanan lezat tidak perlu identitas. Dan konsumen biasanya tidak peduli, yang penting lezat. Konsumen tidak akan tahu kalau bahan-bahannya menggunakan zat kimia atau zat beracun.
  • UGC (User-generated Content) – Siapa saja bisa jadi Chef atau juru masak, walau bukan ahli atau pakarnya. Yang penting makananya lezat.


Ketika semua orang bisa jadi (chef) kreator, mereka akan berlomba-lomba membuat konten (makanan lezat) yang diedit (dibumbui) dengan cara menghilangkan batas antara yang realitas dan yang maya (zat-zat kimia/bahan beracun).


Konten kayak gini disebut simulacra. Bukan sekedar membuat konten yang menarik orang, tapi menciptakan kenyataan baru yang lebih indah, rapi, dramatis dari aslinya. 


Review Buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt tentang kesehatan mental Gen Z


Orang bisa bikin konten “cara mengatasi kesehatan mental” padahal dia bukan ahli di bidangnya.


Orang bisa ngasih “tips biar produktif” tapi dia belum pernah melakukan tips itu. Orang bisa bikin video “A day in my life” yang terlihat asyik, padahal kenyataannya tidak seasyik itu.


Hingga membuat kita terlena bahwa konten di media sosial hanyalah rekayasa. Fenomena ini disebut Hyperreality.


Dimana kita tidak bisa membedakan mana yang realitas (kenyataan) dan mana yang simulasi (dunia maya). Contohnya,


Ketika kita merasa “jelek” atau “kurang” saat melihat wajah asli kita di cermin, ternyata tidak semulus seperti menggunakan filter TikTok.


Intinya, kombinasi realitas palsu (konten) dan interaksi tanpa wajah (komentar) menciptakan media sosial yang toxic.


Itu sebabnya buku Generasi Cemas menegaskan bahwa media sosial itu lebih berbahaya bagi perempuan. 


Sayangnya, buku ini tidak menjelaskan bahwa over-information juga menjadi pemicu krisis kesehatan mental. Tidak membahas hyperreality dan sisi gelap media sosial lain.


Aku Pernah Mengalami Anxiety Disorders 


Dulu, aku pernah mengalami gangguan kesehatan mental berupa kecemasan (Anxiety Disorder). Penyebabnya adalah over-information atau kebanyakan mengkonsumsi informasi. 


Media sosial (Instagram) membuatku kecanduan mengkonsumsi informasi. Makin banyak informasi yang dikonsumsi, makin keras otak bekerja. 


Sedangkan media sosial, tidak akan pernah kehabisan informasi (konten) untuk dikonsumsi penggunanya. 


Informasi di media sosial sangat banyak dan beragam. Bisa informasi positif, informasi negatif, misinformasi, bahkan informasi yang toxic


Review Buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt tentang kesehatan mental Gen Z


Aku mengkonsumsi terlalu banyak konten toxic yang sebenarnya tidak diperlukan. Yang mengakibatkan otak overheat dan aku mengalami sakit mental.


Saat gangguan kecemasan terjadi, aku mengurung diri di kamar berhari-hari. Dikit-dikit overthinking dan stress. Nafsu makan turun.


Tidak tertarik dengan hal yang biasanya aku sukai. Sampai merasa putus asa pada kehidupan. 


Selama seminggu, aku tidak bisa melakukan aktivitas secara normal. I fell into despair. 


Bagaimana Mengatasi Krisis Kesehatan Mental?


Buku The Anxious Generation mengajak semua orang untuk memperbaiki krisis kesehatan mental secara kolektif (bersama-sama).


Mulai dari orang tua, orang dewasa, instansi, guru dan Gen Z sendiri. Tanpa adanya dukungan dari semua kalangan, perbaikan ini tidak akan berjalan lancar.


Lalu, apa saran Jonathan untuk parenting anak-anak di era digital ini? Aku rangkum dalam poin-poin berikut:


  • Tidak ada media sosial bagi anak sebelum umur 16 tahun
  • Sekolah tanpa smartphone, bahkan untuk siswa SMA
  •  Memperbanyak permainan, pengalaman atau kemandirian di dunia nyata tanpa pengawasan yang ketat.


Aku sangat setuju dengan saran dari Jonathan. Perlu kerjasama dari berbagai pihak untuk meredam krisis kesehatan mental yang dialami generasi baru.


Di era sekarang, smartphone, internet dan media sosial sudah menjadi kebutuhan. Kita tidak bisa melepaskan sepenuhnya.


Aku pernah Detox media sosial (berpuasa). Tapi kenyataannya, setelah berpuasa aku berbuka juga dengan media sosial. Karena kelaparan lebih besar juga porsi makannya.


Menurutku, yang perlu diperbaiki adalah perilaku kita saat menggunakan teknologi baru. Agar menggunakan lebih bijak. Membatasi apa yang perlu kita konsumsi.


Saat ini aku menggunakan media sosial dengan batas waktu tertentu. Sehingga bisa mengurangi konsumsi konten yang toxic.


Review Buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt tentang kesehatan mental Gen Z
Aku membatasi penggunaan TikTok 1 hari 1 jam.


Dengan adanya batasan ini, aku mengurangi distraksi media sosial. Katanya Jonathan, Semakin kita mengurangi distraksi di dunia maya, makin baik kesehatan mental kita.


Distraksi paling aman adalah distraksi dunia nyata. Aku mencoba memperbanyak distraksi nyata. Dan hasilnya, aku lebih baik walau masih bermain media sosial.


Terutama ketika overthinking, aku akan beraktivitas tanpa smartphone ataupun laptop. Seperti, membaca buku, nongkrong, keluar rumah, olahraga, bersih-bersih rumah, jalan-jalan, dan masih banyak lagi.


Setelah Menutup Buku Ini


Setelah menutup buku ini, aku menyadari bahwa penyebab krisis kesehatan mental bukan hanya karena teknologi itu sendiri. Tetapi karena perilaku kita yang kurang bijak dalam menggunakannya. 


Buku The Anxious Generation karya Jonathan Haidt mengingatkanku dengan gangguan mental yang pernah aku alami. Tetapi juga memunculkan pertanyaan baru.


Jonathan sepertinya kurang mengulas secara luas penyebab krisis kesehatan lain yang sebenarnya berasal dari manusia sendiri. 


Ia terlalu fokus pada menyalahkan (nge-judge) generasi sebelumnya atas pola asuh yang kurang tepat di era digital. Generasi Z juga bukan satu-satunya yang terkena krisis kesehatan mental. 


Satu lagi yang aku dapatkan dari buku ini. Tentang adanya kampanye secara kolektif yang bertujuan untuk memperbaiki masalah krisis kesehatan mental ini. 


Mereka mengkampanyekan regulasi dan desain teknologi agar lebih aman terhadap anak-anak khususnya.


Seperti mendesak perusahaan teknologi agar menjaga memprioritaskan keamanan dan privasi anak-anak.


Di Indonesia, pemerintah sudah membuat program tunasdigital.id untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Tapi sayang, sambutan orang-orang kurang baik.


Aku akan merekomendasikan buku Generasi Cemas ke kamu yang pengen tau cara parenting anak di era digital.


Aku beri rating Buku The Anxious Generation, bintang 3.4 / 5 ⭐️ Beberapa alasan kenapa aku menilai segitu, terangkum dalam 5 poin ini:


  • Akurasi/Fakta          3.5
  • Sistematika             4
  • Penulisan/Narasi         3.5
  • Manfaat Praktis         3
  • Kedalaman Materi     3


Makasih udah baca…


2 komentar

  1. manteb Mas. makasih udah sharing isi bukunya. sedikit membuat kami sejenak menahan nafas dan melihat bagaimana pola asuh anakku, bagaimana diriku berdampingan dengan teknologi digital. thanks.

    BalasHapus
  2. Tulisan yang sangat membuka mata, Mas. Saya suka sekali bagaimana Mas menghubungkan gagasan Haidt tentang pola asuh overprotektif dengan pengalaman pribadi soal over-information dan hyperreality di media sosial. Rasanya relevan bukan cuma untuk orang tua, tapi juga untuk kita yang sehari-hari hidup dengan smartphone dan terus tergoda untuk “makan” konten tanpa batas. Terima kasih sudah jujur bercerita soal anxiety dan memberi contoh konkret bagaimana membatasi media sosial serta mencari distraksi di dunia nyata, bagian itu menurut saya justru yang paling praktis dan menenangkan.

    BalasHapus