Review Novel The Great Gatsby Karya F. Scott Fitzgerald - ahmad hanif

Review Novel The Great Gatsby Karya F. Scott Fitzgerald



The Great Gatsby sebuah novel klasik Amerika yang diakui sebagai penggambaran budaya Amerika 1920’an (The Roaring Twenties) dan Impian Amerika (The American Dreams). Novel ini sudah menjadi domain public sejak 2021 dalam versi bahasa Inggris. Kamu bisa membaca gratis di publicdomainlibrary.org

Karya F. Scott Fitzgerald yang ketiga ini terbit pertama kali pada 10 April 1925 namun tidak laku. Setelah Perang Dunia II, Militer AS mendistribusikan secara gratis sebagai hiburan para prajurit. Menjadikannya mencapai kepopuleran setelah penulisnya meninggal. Lalu di tahun 1960’an novel ini diakui para kritikus sastra sebagai mahakarya sastra dunia.

Kemudian menjadi salah-satu bacaan wajib di sekolah menengah atas Amerika karena kaya akan nilai sastra. Beberapa orang mengatakan bahwa The Great Gatsby sebuah novel yang overrated. Terlalu diagung-agungkan. Masih banyak karya sastra Amerika yang lebih bagus dijadikan bacaan wajib.  Di sisi lain, membaca The Great Gatsby semata-mata bukan untuk membandingkan karya sastra mana yang lebih bagus. Namun juga mengingatkan kita tentang apa artinya menjadi orang Amerika.

Kekurangan Novel The Great Gatsby


Secara garis besar, novel ini belum bisa saya nikmati secara penuh. Saya sedikit kesulitan membangun imajinasi tanpa penerjemahan yang baik. Mungkin karena saya menerjemahkannya sendiri. Sehingga terlihat kaku, amburadul dan tidak terstruktur.

Kedua, sebagai generasi Z dari Asia, saya tidak relevan dengan budaya Barat tersebut. Saya sering menemukan scene atau penjabaran setting yang tidak saya pahami. Saya hanya terus membaca walaupun tidak paham maksudnya. Terutama dalam penggambaran pesta, gedung-gedung, atau budaya orang Amerika pada zaman itu.

Ketiga, terbentuknya karakter Gatsby yang terasa hambar. Terlalu misterius membuatnya kurang berkembang mengarahkan alur cerita. Dan itu mengurangi rasa penasaran saya terhadap novel ini. Walaupun di bagian akhir, terdapat gambaran tentang masa lalu Gatsby sebagai (James Gatz).

Kelebihan Novel The Great Gatsby


Saya terpukau dengan keindahan tulisannya yang penuh makna. Walaupun hasil terjemahan saya sendiri yang amburadul, saya tetap bisa merasakan. Hampir saya temukan di setiap kalimat. Seperti seseorang yang bisa menulis banyak hal sekaligus ke dalam beberapa kalimat saja.

Kelebihan yang lain ada pada struktur cerita yang membingkai dengan sudut pandang orang pertama (Nick). Ini menjadi hal yang menyegarkan bagi saya. Bayangkan kamu adalah orang yang menjadi bagian dari kisah cinta soerang crazy rich. Kemudian diminta untuk menceritakan kisah itu saat kondisi depresi. Hebatnya, kamu bisa bercerita dengan jujur dan objektif tanpa menyalahkan pihak manapun.

POV ini yang membuat saya tertarik dengan novel The Great Gatsby. Bukan hanya itu, sebagai Sang Pencerita, (Nick Carraway) atau mungkin penulisnya sendiri bisa sangat detail menceritakan sisi gelap Amerika pada era kejayaannya dan keruntuhan moral yang makin menggila.

Sisi Gelap Dibalik The Roaring Twenties


Cerita yang mengangkat kesenjangan sosial antara New Money, Old Money, dan No Money. Old Money yang arogan dan menganggap New Money kurang beradab. New Money yang terlalu bebas dan selalu memamerkan kekayaannya berusaha agar diterima di kelas sosial atas. Sedangkan No Money sering ditindas dan dimanfaatkan oleh kelas atas.

Kedua, kemerosotan moral di tengah materi yang berlimpah. Semua itu ditunjukkan dalam perjalanan hidup mereka, entah Gatsby, Tom, atau yang lainnya. Kekuasaan yang kotor, perselingkuhan tanpa malu, bisnis-bisnis ilegal, atau kehilangan empati antar sesama manusia terjadi pada saat Amerika berada di puncak kejayaannya. 

Hal ini membuat cita-cita luhur Amerika runtuh. Kerja keras tidak selalu menjamin kebahagiaan. Kompetensi dan keterampilan bukan lagi kunci kesuksesan. Materi adalah nilai tertinggi dari segalanya. 

Kesimpulan


Saya menolak jika disuruh membaca kembali The Great Gatsby. Masih banyak novel yang menurut saya lebih layak untuk diagungkan. Seperti trilogi Novel Rara Mendut karya Romo Mangun yang tidak kalah terampil memamerkan kemegahan Kesultanan Mataram. Saya merekomendasikan novel The Great Gatsby untuk belajar membaca bahasa Inggris daripada dinikmati.
Terima kasih telah melihat tulisan saya